
Minyak Turun Dekat Level Pra-Perang
Harga Minyak kembali melemah pada perdagangan Kamis dan mendekati level yang terakhir terlihat sebelum perang Iran dimulai. Brent untuk pengiriman Agustus turun ke sekitar US$72–US$73 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI bergerak di kisaran US$69–US$70 per barel. Kedua kontrak menyentuh level terendah sejak 27 Februari, tepat sebelum konflik besar di Timur Tengah mendorong lonjakan harga Minyak.
Tekanan utama datang dari ekspektasi meningkatnya pasokan Minyak Timur Tengah. Pasar mulai memperkirakan bahwa barel Minyak dari kawasan Teluk dapat kembali lebih cepat dari perkiraan, setelah arus kapal melalui Selat Hormuz berangsur pulih. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan aliran Minyak melalui Hormuz sudah mendekati kondisi sebelum perang, dengan sedikitnya 20 juta barel keluar dari selat tersebut dalam 24 jam terakhir. Namun, normalisasi penuh masih membutuhkan waktu karena jalur itu masih perlu dibersihkan dari ranjau.
Pemulihan Hormuz semakin diperkuat setelah Oman membuka rute sementara untuk membantu kapal tanker keluar dari jalur tersebut. International Maritime Organization dan otoritas Oman ikut mengoordinasikan pergerakan kapal agar arus pelayaran bisa berjalan lebih aman. Di sisi diplomasi, Qatar juga mulai membahas masa depan pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman, Iran, Irak, dan negara-negara Teluk.
Selain Hormuz, potensi bertambahnya ekspor Minyak Iran ikut menekan harga. Amerika Serikat memberi kelonggaran sementara terhadap pembelian Minyak Iran yang sudah dimuat, sehingga Pasar memperkirakan tambahan pasokan dapat masuk ke Pasar global. Hal ini membuat harga kargo Minyak fisik dari berbagai wilayah ikut turun, karena pembeli mulai menerima lebih banyak tawaran pasokan dari Timur Tengah dan kawasan lain seperti Afrika.
Meski begitu, Pasar belum sepenuhnya mengabaikan risiko ketatnya pasokan. Data Energy Information Administration menunjukkan total stok Minyak mentah AS turun ke level terendah sejak 1984, didorong oleh permintaan kilang yang kuat dan pelepasan cadangan Minyak darurat Pemerintah. Namun, data tersebut belum mampu mengangkat harga karena fokus utama trader saat ini tetap tertuju pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan kembalinya pasokan Timur Tengah.
Analis Macquarie memperkirakan harga Minyak dapat kembali normal dengan cepat menuju level sebelum perang seiring rantai pasok menyesuaikan dan Hormuz kembali terbuka. Mereka memproyeksikan Brent rata-rata berada di sekitar US$67 per barel dan WTI di sekitar US$62 per barel pada kuartal III. Artinya, selama pasokan Timur Tengah terus pulih dan tidak ada gangguan baru dalam negosiasi AS-Iran, tekanan terhadap harga Minyak masih berpeluang berlanjut.(Asd)*
Sumber : Newsmaker.id
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
analisis fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
analisis teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.