
Brent Bertahan Dekat US$88, Defisit Pasokan Jadi Penopang
Harga Minyak bertahan dekat level tinggi pada perdagangan Kamis (13/08) setelah mencatat kenaikan selama enam sesi berturut-turut. Brent bergerak di sekitar US$88 per barel setelah melonjak sekitar 12% dalam enam sesi sebelumnya, sementara WTI diperdagangkan di bawah US$83. Pasar masih menunggu perkembangan nyata mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Negosiasi AS-Iran terkait Hormuz masih menemui jalan buntu. Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas jalur tersebut, sementara Washington tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi terhadap Teheran. Pakistan, yang berperan sebagai mediator, juga menyebut proses perdamaian yang lebih luas mulai terhenti.
Risiko pasokan tetap menjadi penopang utama harga Minyak. International Energy Agency memperkirakan Pasar global mengalami defisit sekitar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini, lebih dari dua kali proyeksi sebelumnya. Untuk sepanjang 2026, defisit diperkirakan menjadi yang terbesar dalam lima tahun akibat konflik AS-Iran dan gangguan terhadap infrastruktur energi.
Namun, tekanan jangka pendek datang dari lonjakan persediaan Minyak mentah AS. Data Energy Information Administration menunjukkan stok crude meningkat 17,4 juta barel pada pekan lalu, kenaikan terbesar sejak Januari 2023. Lonjakan tersebut terutama terjadi di kawasan Gulf Coast akibat ekspor yang melemah dan impor yang meningkat, termasuk masuknya kembali Minyak dari Arab Saudi dan Venezuela.
Harga bahan bakar di AS juga tetap tinggi. Bensin dan diesel berada pada level yang tidak biasa untuk periode ini dalam setahun, menambah tekanan terhadap konsumen sekaligus menjaga kekhawatiran inflasi tetap hidup.
Analisis Newsmaker: Pasar Minyak saat ini menghadapi dua kekuatan berlawanan. Defisit global sebesar 1,8 juta barel per hari dan kebuntuan Hormuz menjaga risiko kenaikan harga tetap tinggi, sementara lonjakan stok Minyak AS sebesar 17,4 juta barel menjadi penahan jangka pendek. Selama Hormuz belum kembali normal, Brent berpotensi tetap bertahan di area US$85–US$90, dengan peluang kembali menguat jika gangguan pasokan semakin dalam. (asd)
Sumber: Newsmaker.id
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
analisis fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.