Analisis Ketegangan Hormuz Belum Reda, Harga Minyak Kembali Menguat - Data Pasar 2026-07-07

Analisis Ketegangan Hormuz Belum Reda, Harga Minyak Kembali Menguat - Data Pasar 2026-07-07

Ketegangan Hormuz Belum Reda, Harga Minyak Kembali Menguat

Harga Minyak bergerak menguat setelah serangan terhadap kapal di kawasan Selat Hormuz kembali menyoroti risiko gangguan lalu lintas energi global. Jalur tersebut masih menjadi perhatian utama Pasar karena merupakan salah satu rute penting bagi pengiriman Minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke Pasar dunia.
Minyak Brent naik mendekati US$73 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI bergerak di atas US$69 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sebuah tanker yang bergerak ke arah selatan dilaporkan terkena serangan sekitar 8 mil laut di sebelah timur Limah, Oman, hingga memicu kebakaran. Menurut laporan, kapal tersebut merupakan Al Rekayyat, sebuah kapal pengangkut gas alam.
Di sisi lain, Iran juga dilaporkan menembakkan sedikitnya dua rudal ke kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Dua kapal disebut mengalami kerusakan, meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Insiden ini membuat investor kembali menghitung risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz sebelumnya sempat hampir sepenuhnya ditutup akibat perang Amerika Serikat dan Iran. Saat ini, jalur tersebut mulai dibuka kembali secara bertahap, termasuk untuk konvoi kapal yang terkait dengan Jepang. Meski demikian, volume lalu lintas kapal masih belum kembali ke level sebelum konflik.
Menurut Ellen Wald, Presiden Transversal Consulting dan penulis Saudi, Inc., Saudi Aramco menurunkan harga Minyak agar pembeli Asia tetap tertarik menyewa tanker dan masuk ke kawasan Selat Hormuz. Langkah ini menunjukkan bahwa risiko pengiriman masih menjadi salah satu pertimbangan utama bagi pembeli energi di Asia.
Sebelumnya, harga Minyak sempat turun sekitar 30 persen pada kuartal kedua setelah Washington dan Teheran menyepakati kesepakatan damai sementara. Kesepakatan itu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Bahkan, premi perang pada harga Brent disebut sudah terhapus, sementara sejumlah bank besar seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley mulai memperingatkan risiko kembalinya kelebihan pasokan.
Namun, serangan terbaru terhadap kapal di Teluk Persia menunjukkan bahwa normalisasi Pasar energi belum sepenuhnya terjadi. Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV di Singapura, menilai respons terbatas dari Amerika Serikat dapat memberikan dukungan jangka pendek bagi harga Minyak. Meski begitu, tekanan bearish dan lemahnya Pasar fisik berpotensi membuat kenaikan harga hanya berlangsung sementara.
Pada Senin, Saudi Aramco menyatakan akan menurunkan harga Arab Light untuk pembeli Asia bulan depan sebesar US$11 per barel menjadi US$1,50 di bawah acuan harga. Terakhir kali Saudi menjual jenis Minyak tersebut dengan diskon terjadi pada masa perang harga tahun 2020 dan 2015.
Langkah Riyadh ini muncul setelah negara-negara OPEC+, termasuk Arab Saudi, memutuskan untuk menaikkan kuota produksi bulan depan. Keputusan tersebut menambah ekspektasi bahwa pasokan Minyak global dapat meningkat ketika kondisi Pasar mulai normal. Walaupun tambahan pasokan itu masih bersifat teoritis, sinyal dari OPEC+ menunjukkan keinginan untuk kembali mendorong produksi.
Pada perdagangan Selasa pagi di Singapura, Brent untuk pengiriman September naik 1 persen ke level US$72,69 per barel. Sementara itu, WTI untuk pengiriman Agustus juga menguat 1 persen ke posisi US$69,26 per barel.
Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo Markets, menilai serangan kapal terbaru mengingatkan investor bahwa proses meredanya ketegangan di Timur Tengah masih rapuh. Menurutnya, Pasar mungkin kembali memasukkan sebagian premi risiko Selat Hormuz ke harga Minyak, tetapi belum sepenuhnya memperhitungkan skenario gangguan besar.
Meski begitu, latar belakang Pasar secara umum masih belum terlalu mendukung kenaikan harga Minyak yang berkelanjutan. OPEC+ terus menaikkan produksi, pasokan dari kawasan Teluk mulai pulih, dan struktur Pasar Brent-Dubai telah bergeser ke contango. Pola ini biasanya menjadi sinyal bearish karena menunjukkan Pasar fisik jangka pendek lebih longgar.
Pelaku Pasar kini menunggu laporan Short-Term Energy Outlook dari US Energy Information Administration untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasokan dan permintaan. Pada laporan sebelumnya, lembaga tersebut menaikkan proyeksi produksi Minyak mentah Amerika Serikat tahun 2027 sebesar 220.000 barel per hari menjadi 13,83 juta barel per hari, setelah harga sempat reli akibat perang.(mrv)*
SSumberĀ  Newsmaker.id

Analisis Komprehensif Pasar Minyak

Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.

Faktor Penentu Harga Minyak

  • Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
  • Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
  • Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
  • Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.

Panduan Analisis Pasar Keuangan

Untuk sukses dalam trading dan Portofolio Investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:

Analisis Fundamental

Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.

Analisis Teknikal

Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.

Manajemen Risiko

Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.